Merdeka..

17 Agustus 1945, teks proklamasi Indonesia dibacakan oleh Bapak Bangsa Soekarno. 17 Agustus, 62 tahun setelahnya terasa bangsa ini masih berjuang mencari identitas kebangsaan. Di saat yang sama, pemerintah berkuasa masih tergagap saat bicara visi bangsa…

Bangsa yang miskin identitas perekat. Dulu cukup solid saat masih direkatkan kebencian yang
sama pada penjajah. “United by a common hatred”. Namun itu dahulu. Saat ini apa yang bisa kita banggakan sebagai perekat kesatuan bangsa?

Emosi negatif berupa kebencian dulu pernah menyatukan para patriot kita untuk berjuang melawan penjajah. Memberi mereka energi untuk memerangi musuh bersama. Dan puncaknya mencapai kemerdekaan. Saat ini, emosi negatif serupa itu juga masih berlimpah di negara ini. Sebut saja kebencian, ketakutan dan kekerasan.

Rasanya ada mata rantai yang hilang di sini… Ya, cita-cita bersama mencapai kemerdekaan. Visi menjadi bangsa merdeka. Mimpi yang dimiliki sama-sama dan dengan segala cara coba diwujudkan bersama.

Bicara kebencian dalam wacana kekinian, saya rasa kita punya banyak kebencian. Tapi apa kebencian itu di atas dasar yang sama? Diarahkan oleh tujuan yang sama? Untuk menghadapi musuh bersama?

Kita bisa lihat bersama penjajah-penjajah baru, penanam modal serakah pemerkosa tanah air bangsa, dan kelompok orang bodoh yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan mengeruk kekayaan bangsa tanpa peduli daya dukung sang bumi.

Kita bisa rasakan betapa bumi meronta. Melemparkan kemarahannya tanpa pandang bulu. Bahkan juga pada mereka yang menyayanginya. Apa salah warga Lapindo terhadap sang bumi hingga kehangatan rumah dan kerukunanan hidup bertetangga terenggut dari mereka? Belum lagi berita banjir dan longsor yang susul menyusul dengan berita kabut asap dan kebakaran yang sudah seperti berita bulan yang naik menyusul tenggelamnya matahari.

Saya membatasi bahasan pada bencana ekologis. Bencana yang merupakan akibat dari keserakan manusia yang berdampak kembali pada manusia. Sebuah mekanisme jaring laba-laba. Di mana semua hal saling berhubungan. Walau kadang, yang melakukan adalah manusia yang satu, namun yang terkena dampak pertama kali adalah manusia yang lain.

Namun jika coba kita baca skema keseluruhannya, dampak pengerusakan lingkungan adalah seperti efek domino yang disusun membentuk lingkaran. Manusia yang memicu robohnya satu domino ibarat terjebak di satu titik disamping domino yang dia dorong. Kecerdasannya untuk tidak berdiri di arah robohnya domino pertama sebenarnya bentuk kebodohannya yang tak dapat membaca lingkaran domino yang berakhir tepat di arah yang tidak dia perhatikan sebelumnya. Hanya perkara waktu sebelum tumpukan domino rubuh dan menimpanya dari arah yang tak ia duga sebelumnya.

Merdeka dari bencana ekologis. Layakkah kita membenci bencana? Lantas kemana mereka yang mengganggu sang bumi hingga sedemikian murka? Halah…tak usah ditanya. Mereka sudah dengan damai di belahan bumi yang lain. Menikmati sepotong surga yang masih tersisa jauh di sana. Mungkin potongan terakhir, karena cepat atau lambat dampak tindakan mereka akan merambat melintas batas negara.

Merdeka dari bencana ekologis selayaknya menjadi tujuan bersama. Cita-cita yang melandasi sebuah bentuk perjuangan baru. Perjuangan dengan kebencian bersama pada keserakahan dan ketidakadilan.

Kemudahan dalam kemusykilan
‘Absurd’. Begitu kata seorang kawan ketika kami bicara perlawanan untuk merdeka dari bencana ekologis. ‘Lha musuhnya siapa?’, dia bertanya dengan nada skeptis. Saya merepet menyebut sejumlah perusahaan tambang dan perkebunan lintas bangsa, kelompok pengusaha pemegang Hak Pengusahaan Hutan, sejumlah pengusaha lokal hingga pemerintah yang saya anggap sangat permisif pada para penyebab kerusakan tanah air.

‘Kalo sebanyak itu mah, ga mungkeeen!’ katanya lagi. Argumennya, perlawanan menjadi mustahil karena kali ini musuh bangsa meretas dalam berjuta wajah. Ada dalam wajah pengusaha lokal, pemodal asing, bahkan pemerintah. Akibatnya, akan sulit menyatukan kekuatan menghadapi sekian banyak kekuatan lawan.

Dia tidak salah. Jadi benarkah ia?

Naluri mempertahankan diri yang membuat manusia berusaha. Namun ketika manusia berkenalan dengan yang namanya keserakahan, usaha mempertahankan diri dirasa tak lagi mencukupi untuk tetap bertahan hidup.

Kalau kita coba lihat ke dalam diri, mungkin musuh itu malah beredar di dalam nadi kita sendiri. Sudah saatnya kita menakar seberapa jauh usaha kita mempertahankan hidup telah membebani bumi. Sebagai manusia merdeka adalah mutlak pilihan pribadi kita untuk sedapat mungkin mengurangi tekanan kita pada bumi. Melangkah sedikit lebih jauh, membantu bumi memerangi musuhnya.

Kita sudah merdeka toh? Mengapa tidak memilih merdeka dari bencana ekologis?

“Ideologi berbasis kapitalisme dan neoliberalisme tidak mencerminkan dan tidak sesuai dengan keadilan sosial terhadap rakyat Indonesia, termasuk bagi antarwarga bangsa. Maka, segala ideologi dari luar yang tidak memberi manfaat dan keadilan bagi rakyat harus ditentang dan dicegah masuk ke Indonesia,” ujar Presiden dalam sambutan tanpa teksnya pada puncak perayaan Hari Koperasi Ke-60 di Kompleks Garuda Wisnu Kencana, Ungasan, Badung, Bali, Kamis (12/7).

Kompas, 13 Juli 2007.

Kerennnn!!! Hanya saja, ada apa di balik pernyataan ini?  Apa sekedar bentuk dukungan pada koperasi?  Atau malah pola khas politisi yang merasa bisa menggalang massa baru dengan bahasa tertentu?

Bahasa Kapitalisme dan neolibralisme selama ini kukuh digadang para aktivis akar rumput dan kaum masyarakat marjinal.  Gerakan ini sekarang semakin kuat dan solid. Kongres dan Konferensi Rakyat Indonesia bahkan sudah mendeklarasikan berdirinya Sarekat Hijau Indonesia. Lantas?

Just to let you all know this blog is still alive (or at least the blogger who admins this blog is still alive…)

Goenawan Muhamad, atau sering disebut inisialnya saja GM,merupakan salah satu jurnalis senior di Indonesia. Baru-baru ini saya dapat forward e-mail dari kawan saya tentang sebuah essay GM yang dinilainya menarik.

GM menulis tentang isu besar, pemanasan global. Dari sudut pandang seorang GM tentunya. Juga dengan dengan gaya berceritanya yang mengalir halus. Membaca essay-essay GM selama beberapa tahun ini, saya merasa essaynya kali ini masih seperti caping–catatan pinggir– GM yang lalu-lalu.

Saya kenal GM sejak mulai banyak teman saya memilih profesi sebagai wartawan..sekitar awal tahun 2000an. Saya si ‘pembaca segala’ yang membaca bacaan apapun yang ada dalam jangkauan. Dan ketika membaca Caping yang covernya hijau, hehe saya lupa Caping ke berapa, saya kemudian tertarik membaca lebih banyak tulisan2 GM. Saya merasa menemukan tulisan yang mengajak saya ngobrol. Beberapa pokok pikir penulis membuat saya manggut-manggut dan tergerak menimpali dengan argumen pribadi saya. Kali lain saya baca gugatannya yang membuat kening saya mengernyit. Dan, pernah pula saya dibuat ingin langsung berkomentar menjegal pernyataannya yang terasa bertentangan dengan isi kepala saya.

Essay caping GM kali ini, berjudul Mall. Singkat. Membacanya, saya merasa beruntung berada dalam kelompok kecil yang percaya bahwa kami dapat mengubah dunia. Saya satu dari entah berapa banyak orang yang berfikiran sama. Mereka yang berfikir bahwa menjadi Environmentalis itu gampang.

“Terlalu sulit, terlalu sulit” begitu kata GM dalam essaynya. Saya pun manggut sependapat pada awalnya. Tapi saya percaya –seperti temannya GM si Arsitek Jepang yang kemudian memilih tinggal di dusun, mengusahakan sabun non deterjen dan bertanam sayuran organik–masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Semua memang harus dilakukan sama-sama. Mulai dari satu orang, satu waktu. One at a time. Dan itulah gerakan. Kalo yang kami sedang coba bangun, gerakan menuju keadilan lingkungan untuk semua. Environmental justice for all.

Dan, ketika saya baca “terlalu sulit, terlalu sulit” berputar di pikir seorang GM ketika melihat fakta terkini ketidakadilan lingkungan, saya lantas merasa harus segera menulis postingan ini. Terimakasih GM, :)

Ithoy

Program training environmentalist Walhi Kalsel yang populer dengan sebutan GSM training kali ini menggelar kelas khusus. Pada tanggal 3 Maret lalu, training berlangsung di Auditorium Iain Antasari Banjarmasin. Tidak seperti training regular yang memerlukan empat pertemuan untuk setiap angkatannya, training kelas khusus dapat berlangsung antara satu hingga tiga kali pertemuan. Untuk kerjasama dengan IAIN, kami bersepakat dengan satu kali pertemuan berlangsung dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore.

Setiba di lokasi training, kami melakukan beberapa penyesuaian. Khususnya tata letak perlengkapan presentasi, laptop dan proyektor yang sengaja kami bawa dari Banjarbaru. Setelah semuanya siap, kami langsung mulai dengan memperkenalkan diri pada para peserta.

Perkenalan kami kemas dengan pola ala discovery pada appreciative inquiry. Yayan memfasilitasi para peserta menggali potensi diri mereka dengan menggambar komik diri. Komik tersebut yang kemudian menjadi pemandu bagi peserta untuk bercerita tentang kejadian menarik yang dialaminya semasa kecil, kejadian yang menariknya untuk lebih memperhatikan lingkungan dan menyebutkan apa yang dimilikinya yang akan disumbangkan untuk gerakan lingkungan.

Bentuk perkenalan seperti ini sudah menjadi semacam tradisi dalam training environmentalist Walhi Kalsel. Sejauh ini, bentuk perkenalan dengan komik diri selalu berhasil membuat bahkan peserta paling diam sekalipun jadi ikut bicara. Karena dengan bercerita hal menyenangkan sewaktu kecil, peserta jadi merasa nyaman dan memberi peserta tersebut energi untuk menyelesaikan ceritanya. Komik diri kami nilai cukup efektif untuk memfasilitasi tahap preparasi belajar, karena dapat membantu peserta berada pada zona yang di mana dia merasa aman dan nyaman untuk mulai belajar.

Berikutnya, kami berbagi tentang GSM dan cara belajar dalam training regular berikut penyesuaian yang kami lakukan untuk kelas khusus. Ithoy kebagian porsi ceramah untuk sesi kali ini. Teori-teori otak dan teori-teori belajar dibahas di sesi itu. Pokoknya full-teori. Bahasan-bahasan singkat tapi mencakup cukup banyak teori tersebut disusul sesi tanya jawab dengan peserta.

Berikutnya, sebagai persiapan bagi peserta untuk membuat presentasi setelah break makan siang, Eko menyampaikan paparan singkat strategi melakukan presentasi. Sesi pagi ditutup tepat pukul 12.30, dengan break selama satu setengah jam.

Training kelas khusus yang pertama ini memang sangat khusus. Sepanjang sesi pagi, tidak ada satupun sesi yang secara eksklusif membahas lingkungan hidup. Tapi, sepanjang sesi pagi peserta sudah sedemikian sering mendengar kata environmentalist, environmentalisme, lingkungan hidup dan tentu saja Walhi… Kenapa? Karena training ini memang dirancang agar peserta merasa nyaman mendiskusikan lingkungan hidup dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka. Latihan singkat yang akan membuat peserta menjadi lebih peka dengan lingkungan mereka karena pembahasannya dimulai dari hal-hal yang familier buat mereka.

Sesi siang sedikit molor karena kami pindah ruangan. Dari auditorium ke ruang kuliah biasa. Kami harus pindah kelas karena auditorium sedang didekor untuk pesta pernikahan. Auditorium IAIN memang disewakan untuk berbagai acara, seringnya untuk resepsi pernikahan.

Sesi siang dimulai dengan acara bagi kelompok yang unik. Peserta yang mendapat kertas berisi suara binatang menirukan suara yang tertulis dan berkelompok dengan mereka yang mengeluarkan suara serupa.

Berikutnya, nonton bareng film Indonesia berjudul Soulmate selama tigapuluh menit. Dengan tugas menemukan dialog atau latar cerita atau bagian film lainnya yang berhubungan dengan kondisi lingkungan Kalsel terkini. Peserta yang telah dibagi kelompok kemudian diberi waktu 15 menit untuk mempersiapkan presentasi kelompok mereka masing-masing. Tanpa diminta menggambar, sebagian besar peserta malah mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka dalam gambar.

Muatan lingkungan yang ditemukan peserta dalam film soulmate sangat beragam. Dari Ada yang mengaitkan latar hujan dengan bencana banjir tahunan yang tak tertangani dengan baik. Ada pula yang mengaitkan dialog film tentang rokok dengan kebiasaan buang sampah sembarangan. Secara keseluruhan, peserta berhasil menggali sendiri permasalahan lingkungan di Kalsel dan menemukan elemen film yang terkait dengan hal itu.

Eko, yang berikutnya masuk dengan bahasan isu lingkungan dan kewalhian, menyebut para peserta gila. “Pembuat film pasti ketika membuat filmnya tidak berfikir film ini akan ada kaitannya dengan lingkungan Kalsel, tapi kalian bisa menemukan kaitan itu dalam filmnya. Hanya orang gila yang bisa” katanya yang langsung disambut pekik tidak setuju dari sebagian besar peserta.

Kemudian dia mengklarifikasi bahwa dia menyebut gila dalam artian kreatif. Dan, mungkin perlu ditambahkan, fasilitator yang merencanakan itu malah lebih “gila”. Karena bisa-bisanya berfikir untuk membuat orang jadi sedemikian “gila”

Sesi penutup kami bikin seru, dengan kembali meminta peserta menggambar. Judulnya “bikin foto kenang-kenangan”. Di sini, kami mengadopsi metode yang kami dapat dari milis vibrant. Peserta duduk melingkar dan masing-masing memegang kertas dan alat gambar. Sesuai instruksi, kertas bergerak ke samping (pada training ini ke kanan) setelah digambari satu bagian wajah sesuai yang diminta fasilitator.

Terakhir, setelah gambar menjadi wajah manusia yang lengkap, setiap peserta diminta membubuhkan namanya pada gambar yang dia pegang.Hasil mengejutkan itulah yang menjadi foto diri peserta, sebagai hadiah dari teman-temannya.

Usai “bikin foto kenang-kenangan” saatnya benar-benar bikin foto kenang-kenangan. Ke-21 environmentalis muda dari IAIN Antasari berfoto bersama. Di sini keluarga baru environmentalist Kalimantan Selatan terbentuk. Langkah pertama dalam upaya penyelamatan lingkungan sudah diambil. Selanjutnya, pasti lebih baik.

BEM IAIN Antasari sudah menunjukkan dukungan penuh mereka. Bahkan presiden BEMnya sendiri, Aji, datang dan mengikuti tahapan training. Walau tidak bergabung secara langsung dengan ke 21 peserta, sejumlah petinggi BEM IAIN Antasari berpartisipasi secara aktif dalam proses training, khususnya dalam tahap perkenalan dan tahap penutup.

Kami pulang ke Banjarbaru menembus hujan. Tapi dengan hati senang. Berikutnya, training khusus akan digelar tanggal 8-9 Maret 2007di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kampus lain berminat? Kami siap!

Tadi saya dapat kiriman dari panitia eco-minds Indonesia. Paket kilat berisi 5 formulir untuk ikut seleksi Eco-minds 2007 di Thailand, 31 Mei hingga 3 Juni mendatang.

Tertarik ikut berpartisipasi dalam seleksi tersebut? Datang langsung ke Sekretariat Walhi Kalsel di Jalan Nuri No 4 Banjarbaru, belakang AKG. Tapi, hanya untuk yang masih tercatat sebagai student dan berusia antara 18-24. Mereka mencari para pemikir muda yang peduli lingkungan (environmentalist lah pendeknya, hehe). Trus, penguasaan B Inggris juga perlu loh…

Sayang, padahal saya masih 24, environmentalis, lancar casciscus english –maap rada narciss–tapi saya sudah lulus kuliah… Jadi ga bisa ikut deh :(

But I encourage you guys to join this great event! Walau formulir yang dikirim cuma lima, peminat tidak dibatasi. Formulir bisa di-download di situs resmi eco-minds Indonesia. So, dont worry be happy…

Ithoy, Fasilitator

PS. siapin tulisan dalam bahasa Inggris tentang Sustainable River Basin, sebanyak 1000 kata. Dikembangkan dengan salah sati dari 3 topik berikut:
* Resource-populationdynamics and interaction
* Short term versus long term sustainability
* Consequences if things continue at current trends
Trus, tulisan tersebut juga harus mencerminkan hal apa saja yang dapat dilakukan untuk kelestarian sungai, dan apa yang dapat dilakukan pada tataran individu untuk menyelamatkan dan melestarikan sungai.

Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten dan beberapa kawasan Banua Lima mulai “calap”. Itu terjadi menyusul hujan lebat yang hampir rata menyiram di tanah Banjar ini kemarin dan juga sehari sebelumnya.

Dari tiga koran pagi yang datang setiap pagi ke kantor Walhi, terungkap ternyata sudah banyak kawasan yang terendam air.

Dari Banjarmasin Post, empat daerah dikeping banjir menjadi berita halaman pertama. Walaupun headline hari ini adalah berita kecelakaan adam air. Menurut koran ini. empat daerak tersebut adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kabupaten Banjar dan kota Banjarbaru.

Sementara itu di halaman pertama Radar Banjarmasin, mengangkat judul “Hujan Deras, Banjir Ancam Wilayah Kalsel” dengan lead mengenai banjir di sejumlah desa di Kabupaten HSS dan HSS. Koran yang merupakan grup Jawa pos ini juga merinci daerah per daerah yang terkena banjir. Baik itu yang di HSS, HST, Kabupaten Banjar maupun yang di Banjarbaru.

Sementara itu, Harian pagi Mata Banua mengulas berita “calap” di kota Banjarmasin. Walo terkesan jadi corong pemerintah yang sedang berkuasa. Karena ketika membahas beberapa jalan yang terendam di Banjarmasin, koran ini mengangkat judul “Yudhi putari jalan kota yang digenangi air” (Yudhi yang dimaksud adalah Yudhi Wahyuni, sang walikota, welehhh..) Trus, pas bicara banjir di Hulu Sungai Utara (HSU), yang ada galeri foto sang bupati berkuasa yang langsung turun ke berbagai lokasi yang terkena banjir…

Itulah, banjir kadang saya lihat jadi semacam wadah para petinggi mencari muka pada rakyat. Tanggap darurat yang merupakan langkah reaktif tidak dibarengi dengan upaya antisipatif. Apa mungkin para petinggi itu mikir dengan ada banjir tahunan, mereka bisa mempertahankan popularitasnya dengan setiap tahun setor bantuan dan setor muka ke masyarakat? Hiks..sedih kalo melihat kenyataan seperti ini.

Banjir, terlebih banjir tahunan yang semakin massif setiap tahunnya adalah bencana ekologis. Manusia dan segala tindakannyalah yang berkontribusi pada kunjungan rutin bencana banjir ke “Banua” kita. Namun di balik itu, perlu kita tanya siapa yang paling jadi korban ketika itu terjadi.

Adalah rakyat kecil yang jadi korban terbesarnya. Rakyat kecil adalah mereka hidup hanya untuk bertahan hidup hari ini. Mereka yang akan tergilas oleh “bencana yang direncanakan” ini. Mereka yang periuk nasinya “hanyut” terbawa aliran air banjir. Mereka yang kemudian harus bergantung pada MEREKA yang sudi bermurah hati. Walau beberapa bantuan disertai bendera-bendera partai dan berbagai atribut golongan lainnya. Atribut kepada mana para korban itu nantinya akan berterimakasih dengan menunjukkan dukungan atas apapun yang dilakukan golongan “penyelamat” yang datang pada saat mereka dihajar bencana. Walau kemudian, yang mereka dukung justru kembali merugikan dan menjerumuskan mereka dalam jurang lebih dalam. Bancana baru yang bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya…

Siklus yang berulang setiap tahun ini terus berlangsung setiap tahun ini bak sebuah lingkaran setan. Siklus yang terus berputar dan semakin membesar.

Banjar, siap-siap menyambut banjir. Emergency action sangat diperlukan. Tapi, alangkah lebih indah jika dibarengi dengan tindakan-tindakan penyelamatan lingkungan.

Di level rumah tangga, mulai dengan aksi pengurangan sampah. Apa yang masih bisa dipakai ulang, dipakai lagi saja. Apa yang kemudian dapat didaur ulang, daur ulang saja. Tidak tau cara mendaur ulang? Bersahabatlah dengan pemulung yang perlu sampah kita untuk bertahan hidup, atau dengan tukang loak keliling yang akan memberi sedikit nilai ekonomis bagi sampah kita. Agar tak terlalu banyak sampah yang harus ditelan bunda bumi.

Tak cukup itu, mulailah coba berhemat memakai air dan listrik. Keseimbangan tata air dunia sedang dalam krisis. Musim hujan air membawa banjir. Sebaliknya, di musim kemarau, berita kekurangan air merebak di mana-mana.

Trus, berhemat listrik? Apa pula hubungannya dengan banjir? Sekilas memang tidak ada. Tapi listrik Kalsel dari mana sih? Dari PLTU Asam-Asam kan? Mau tau bahan bakar PLTU? No..No, bukan uap…melainkan batubara. Tambang batubara open pit di banua kita kan “menguyak” permukaan bumi. Pendeknya rupa permukaan bumi Kalsel sudah penuh bopeng. Rupa terkoyak permukaan bumi membuat kacau tata air. Kacaunya tata air, seperti saya sebut sebelumnya membuat dampak musim kemarau dan musim penghujan menjadi sangat ekstrim. Banjir bandang vs tanah “bangkang-bankang” akibat langkanya air. Yang ujung-ujungnya juga mencekik rakyat kecil. Musim hujan harta yang sedikit dan tidak diasuransi rusak terendam, musim kemarau harus keluar uang ekstra untuk beli air minum!!

Di level pemerintah, mbok para petinggi lebih sayang dengan pelindung alami di provinsi ini. Sebut lahan gambut, yang fungsinya sebagai daerah resapan dan penyaring salinitas. Jangan lagi lah di urug untuk ruko. Kurang banyak apa ruko di daerah kita ini. Atau seribu sungai yang dimiliki kota Banjarmasin, tolong ai dijaga. Apa tidak ngiri dengan Amsterdam yang malah bela-belain bikin kali-kali buatan demi kemaslahatan kotanya…

Sekarang, siap menyambut banjir. Karena menurut BMG cruah hujan tertinggi akan terjadi di bulan Maret ini. Plus potensi serangan angin puting beliung yang Selasa lalu menerjang dua rukun tetangga di Jalan Sulawesi Banjarmasin… Yuk bantu mereka yang memerlukan…

Salam lestari

Baru kelar inaugurasi angkatan ke 4 training enviro Walhi Kalsel. Keluarga environmentalist Walhi Kalsel bertambah tiga orang. Seperti yang saya bilang pada posting sebelumnya, jumlah peserta environmentalist training kelas regular kali ini menurun drastis.

Anyway, selamat datang Hamid, Nia, dan Aulia. May the force be with you!! :)

Read the rest of this entry »

Angkatan ke-empat training environmentalist di Walhi Kalsel peserta kelas regularnya menyusut drastis!! Untungnya tim fasilitator sudah siap dengan plan-b alias melakukan outreach training dan “bergerilya” dari kampus ke kampus.

Hari ini, Yayan dan Zizah-yang pertama koordinator program Green Student Movement (GSM) yang bertanggungjawab atas keseluruhan proses training, yang berikutnya penanggungjawab untuk proses rekruitmen peserta- berangkat ke Banjarmasin. Tujuannya, melakukan loby dengan pihak Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Antasari (BEM IAIN Antasari) mengenai pelaksanaan training kelas khusus di Kampus IAIN Antasari dimana pesertanya akan langsung direkrut oleh pihak BEM universitas tersebut.

Dari hasil pembicaraan tadi pagi, dicapai kesepakatan bahwa akan ada training environmentalist khusus pada tanggal 3 Maret 2007 mendatang. Tidak seperti training regular yang terbagi menjadi tiga hingga empat kali pertemuan setiap hari Minggu, training khusus di Kampus IAIN tersebut hanya akan berlangsung sehari.

Tapi dihitung-hitung, durasi penyampaian materinya tidak akan jauh berbeda dengan training regular. Begini, training regular hanya berlangsung 2 jam/pertemuan diselingi break. Sedangkan training khusus yang dijadwalkan di IAIN Antasari berlangsung dari jam 9 pagi hingga 5 sore, potong sekitar 2 jam untuk break (snacks dan ishoma siang) dan jatuhnya sekitar 6 jam juga.

Yang akan berbeda adalah psikologis peserta dan fasilitator training. Akan perlu kemasan khusus untuk training ke depan ini. Tapi demi berkembangnya komunitas environmentalis, apa sih yang nggak?

Selamat datang environmentalist! Ini adalah posting pertama, berikutnya kami akan membagi berbagai hal tentang environmentalisme dan perkembangan terkini para environmentalist muda utamanya para alumni training Green Student Movement yang dilakukan Walhi Kalsel.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.