Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten dan beberapa kawasan Banua Lima mulai “calap”. Itu terjadi menyusul hujan lebat yang hampir rata menyiram di tanah Banjar ini kemarin dan juga sehari sebelumnya.

Dari tiga koran pagi yang datang setiap pagi ke kantor Walhi, terungkap ternyata sudah banyak kawasan yang terendam air.

Dari Banjarmasin Post, empat daerah dikeping banjir menjadi berita halaman pertama. Walaupun headline hari ini adalah berita kecelakaan adam air. Menurut koran ini. empat daerak tersebut adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kabupaten Banjar dan kota Banjarbaru.

Sementara itu di halaman pertama Radar Banjarmasin, mengangkat judul “Hujan Deras, Banjir Ancam Wilayah Kalsel” dengan lead mengenai banjir di sejumlah desa di Kabupaten HSS dan HSS. Koran yang merupakan grup Jawa pos ini juga merinci daerah per daerah yang terkena banjir. Baik itu yang di HSS, HST, Kabupaten Banjar maupun yang di Banjarbaru.

Sementara itu, Harian pagi Mata Banua mengulas berita “calap” di kota Banjarmasin. Walo terkesan jadi corong pemerintah yang sedang berkuasa. Karena ketika membahas beberapa jalan yang terendam di Banjarmasin, koran ini mengangkat judul “Yudhi putari jalan kota yang digenangi air” (Yudhi yang dimaksud adalah Yudhi Wahyuni, sang walikota, welehhh..) Trus, pas bicara banjir di Hulu Sungai Utara (HSU), yang ada galeri foto sang bupati berkuasa yang langsung turun ke berbagai lokasi yang terkena banjir…

Itulah, banjir kadang saya lihat jadi semacam wadah para petinggi mencari muka pada rakyat. Tanggap darurat yang merupakan langkah reaktif tidak dibarengi dengan upaya antisipatif. Apa mungkin para petinggi itu mikir dengan ada banjir tahunan, mereka bisa mempertahankan popularitasnya dengan setiap tahun setor bantuan dan setor muka ke masyarakat? Hiks..sedih kalo melihat kenyataan seperti ini.

Banjir, terlebih banjir tahunan yang semakin massif setiap tahunnya adalah bencana ekologis. Manusia dan segala tindakannyalah yang berkontribusi pada kunjungan rutin bencana banjir ke “Banua” kita. Namun di balik itu, perlu kita tanya siapa yang paling jadi korban ketika itu terjadi.

Adalah rakyat kecil yang jadi korban terbesarnya. Rakyat kecil adalah mereka hidup hanya untuk bertahan hidup hari ini. Mereka yang akan tergilas oleh “bencana yang direncanakan” ini. Mereka yang periuk nasinya “hanyut” terbawa aliran air banjir. Mereka yang kemudian harus bergantung pada MEREKA yang sudi bermurah hati. Walau beberapa bantuan disertai bendera-bendera partai dan berbagai atribut golongan lainnya. Atribut kepada mana para korban itu nantinya akan berterimakasih dengan menunjukkan dukungan atas apapun yang dilakukan golongan “penyelamat” yang datang pada saat mereka dihajar bencana. Walau kemudian, yang mereka dukung justru kembali merugikan dan menjerumuskan mereka dalam jurang lebih dalam. Bancana baru yang bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya…

Siklus yang berulang setiap tahun ini terus berlangsung setiap tahun ini bak sebuah lingkaran setan. Siklus yang terus berputar dan semakin membesar.

Banjar, siap-siap menyambut banjir. Emergency action sangat diperlukan. Tapi, alangkah lebih indah jika dibarengi dengan tindakan-tindakan penyelamatan lingkungan.

Di level rumah tangga, mulai dengan aksi pengurangan sampah. Apa yang masih bisa dipakai ulang, dipakai lagi saja. Apa yang kemudian dapat didaur ulang, daur ulang saja. Tidak tau cara mendaur ulang? Bersahabatlah dengan pemulung yang perlu sampah kita untuk bertahan hidup, atau dengan tukang loak keliling yang akan memberi sedikit nilai ekonomis bagi sampah kita. Agar tak terlalu banyak sampah yang harus ditelan bunda bumi.

Tak cukup itu, mulailah coba berhemat memakai air dan listrik. Keseimbangan tata air dunia sedang dalam krisis. Musim hujan air membawa banjir. Sebaliknya, di musim kemarau, berita kekurangan air merebak di mana-mana.

Trus, berhemat listrik? Apa pula hubungannya dengan banjir? Sekilas memang tidak ada. Tapi listrik Kalsel dari mana sih? Dari PLTU Asam-Asam kan? Mau tau bahan bakar PLTU? No..No, bukan uap…melainkan batubara. Tambang batubara open pit di banua kita kan “menguyak” permukaan bumi. Pendeknya rupa permukaan bumi Kalsel sudah penuh bopeng. Rupa terkoyak permukaan bumi membuat kacau tata air. Kacaunya tata air, seperti saya sebut sebelumnya membuat dampak musim kemarau dan musim penghujan menjadi sangat ekstrim. Banjir bandang vs tanah “bangkang-bankang” akibat langkanya air. Yang ujung-ujungnya juga mencekik rakyat kecil. Musim hujan harta yang sedikit dan tidak diasuransi rusak terendam, musim kemarau harus keluar uang ekstra untuk beli air minum!!

Di level pemerintah, mbok para petinggi lebih sayang dengan pelindung alami di provinsi ini. Sebut lahan gambut, yang fungsinya sebagai daerah resapan dan penyaring salinitas. Jangan lagi lah di urug untuk ruko. Kurang banyak apa ruko di daerah kita ini. Atau seribu sungai yang dimiliki kota Banjarmasin, tolong ai dijaga. Apa tidak ngiri dengan Amsterdam yang malah bela-belain bikin kali-kali buatan demi kemaslahatan kotanya…

Sekarang, siap menyambut banjir. Karena menurut BMG cruah hujan tertinggi akan terjadi di bulan Maret ini. Plus potensi serangan angin puting beliung yang Selasa lalu menerjang dua rukun tetangga di Jalan Sulawesi Banjarmasin… Yuk bantu mereka yang memerlukan…

Salam lestari