Program training environmentalist Walhi Kalsel yang populer dengan sebutan GSM training kali ini menggelar kelas khusus. Pada tanggal 3 Maret lalu, training berlangsung di Auditorium Iain Antasari Banjarmasin. Tidak seperti training regular yang memerlukan empat pertemuan untuk setiap angkatannya, training kelas khusus dapat berlangsung antara satu hingga tiga kali pertemuan. Untuk kerjasama dengan IAIN, kami bersepakat dengan satu kali pertemuan berlangsung dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore.
Setiba di lokasi training, kami melakukan beberapa penyesuaian. Khususnya tata letak perlengkapan presentasi, laptop dan proyektor yang sengaja kami bawa dari Banjarbaru. Setelah semuanya siap, kami langsung mulai dengan memperkenalkan diri pada para peserta.
Perkenalan kami kemas dengan pola ala discovery pada appreciative inquiry. Yayan memfasilitasi para peserta menggali potensi diri mereka dengan menggambar komik diri. Komik tersebut yang kemudian menjadi pemandu bagi peserta untuk bercerita tentang kejadian menarik yang dialaminya semasa kecil, kejadian yang menariknya untuk lebih memperhatikan lingkungan dan menyebutkan apa yang dimilikinya yang akan disumbangkan untuk gerakan lingkungan.
Bentuk perkenalan seperti ini sudah menjadi semacam tradisi dalam training environmentalist Walhi Kalsel. Sejauh ini, bentuk perkenalan dengan komik diri selalu berhasil membuat bahkan peserta paling diam sekalipun jadi ikut bicara. Karena dengan bercerita hal menyenangkan sewaktu kecil, peserta jadi merasa nyaman dan memberi peserta tersebut energi untuk menyelesaikan ceritanya. Komik diri kami nilai cukup efektif untuk memfasilitasi tahap preparasi belajar, karena dapat membantu peserta berada pada zona yang di mana dia merasa aman dan nyaman untuk mulai belajar.
Berikutnya, kami berbagi tentang GSM dan cara belajar dalam training regular berikut penyesuaian yang kami lakukan untuk kelas khusus. Ithoy kebagian porsi ceramah untuk sesi kali ini. Teori-teori otak dan teori-teori belajar dibahas di sesi itu. Pokoknya full-teori. Bahasan-bahasan singkat tapi mencakup cukup banyak teori tersebut disusul sesi tanya jawab dengan peserta.
Berikutnya, sebagai persiapan bagi peserta untuk membuat presentasi setelah break makan siang, Eko menyampaikan paparan singkat strategi melakukan presentasi. Sesi pagi ditutup tepat pukul 12.30, dengan break selama satu setengah jam.
Training kelas khusus yang pertama ini memang sangat khusus. Sepanjang sesi pagi, tidak ada satupun sesi yang secara eksklusif membahas lingkungan hidup. Tapi, sepanjang sesi pagi peserta sudah sedemikian sering mendengar kata environmentalist, environmentalisme, lingkungan hidup dan tentu saja Walhi… Kenapa? Karena training ini memang dirancang agar peserta merasa nyaman mendiskusikan lingkungan hidup dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka. Latihan singkat yang akan membuat peserta menjadi lebih peka dengan lingkungan mereka karena pembahasannya dimulai dari hal-hal yang familier buat mereka.
Sesi siang sedikit molor karena kami pindah ruangan. Dari auditorium ke ruang kuliah biasa. Kami harus pindah kelas karena auditorium sedang didekor untuk pesta pernikahan. Auditorium IAIN memang disewakan untuk berbagai acara, seringnya untuk resepsi pernikahan.
Sesi siang dimulai dengan acara bagi kelompok yang unik. Peserta yang mendapat kertas berisi suara binatang menirukan suara yang tertulis dan berkelompok dengan mereka yang mengeluarkan suara serupa.
Berikutnya, nonton bareng film Indonesia berjudul Soulmate selama tigapuluh menit. Dengan tugas menemukan dialog atau latar cerita atau bagian film lainnya yang berhubungan dengan kondisi lingkungan Kalsel terkini. Peserta yang telah dibagi kelompok kemudian diberi waktu 15 menit untuk mempersiapkan presentasi kelompok mereka masing-masing. Tanpa diminta menggambar, sebagian besar peserta malah mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka dalam gambar.
Muatan lingkungan yang ditemukan peserta dalam film soulmate sangat beragam. Dari Ada yang mengaitkan latar hujan dengan bencana banjir tahunan yang tak tertangani dengan baik. Ada pula yang mengaitkan dialog film tentang rokok dengan kebiasaan buang sampah sembarangan. Secara keseluruhan, peserta berhasil menggali sendiri permasalahan lingkungan di Kalsel dan menemukan elemen film yang terkait dengan hal itu.
Eko, yang berikutnya masuk dengan bahasan isu lingkungan dan kewalhian, menyebut para peserta gila. “Pembuat film pasti ketika membuat filmnya tidak berfikir film ini akan ada kaitannya dengan lingkungan Kalsel, tapi kalian bisa menemukan kaitan itu dalam filmnya. Hanya orang gila yang bisa” katanya yang langsung disambut pekik tidak setuju dari sebagian besar peserta.
Kemudian dia mengklarifikasi bahwa dia menyebut gila dalam artian kreatif. Dan, mungkin perlu ditambahkan, fasilitator yang merencanakan itu malah lebih “gila”. Karena bisa-bisanya berfikir untuk membuat orang jadi sedemikian “gila”
Sesi penutup kami bikin seru, dengan kembali meminta peserta menggambar. Judulnya “bikin foto kenang-kenangan”. Di sini, kami mengadopsi metode yang kami dapat dari milis vibrant. Peserta duduk melingkar dan masing-masing memegang kertas dan alat gambar. Sesuai instruksi, kertas bergerak ke samping (pada training ini ke kanan) setelah digambari satu bagian wajah sesuai yang diminta fasilitator.
Terakhir, setelah gambar menjadi wajah manusia yang lengkap, setiap peserta diminta membubuhkan namanya pada gambar yang dia pegang.Hasil mengejutkan itulah yang menjadi foto diri peserta, sebagai hadiah dari teman-temannya.
Usai “bikin foto kenang-kenangan” saatnya benar-benar bikin foto kenang-kenangan. Ke-21 environmentalis muda dari IAIN Antasari berfoto bersama. Di sini keluarga baru environmentalist Kalimantan Selatan terbentuk. Langkah pertama dalam upaya penyelamatan lingkungan sudah diambil. Selanjutnya, pasti lebih baik.
BEM IAIN Antasari sudah menunjukkan dukungan penuh mereka. Bahkan presiden BEMnya sendiri, Aji, datang dan mengikuti tahapan training. Walau tidak bergabung secara langsung dengan ke 21 peserta, sejumlah petinggi BEM IAIN Antasari berpartisipasi secara aktif dalam proses training, khususnya dalam tahap perkenalan dan tahap penutup.
Kami pulang ke Banjarbaru menembus hujan. Tapi dengan hati senang. Berikutnya, training khusus akan digelar tanggal 8-9 Maret 2007di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kampus lain berminat? Kami siap!

1 comment
Comments feed for this article
March 16, 2007 at 4:43 pm
bennysyah
Salam kenal mbak taibah, blognya udah mulai banyak nich isinya. isi terus biar oke !!